Dynamic Support resistance

Ketika kita berbicara SNR statis, kita melihat bahwa ada sebuah pola yang sangat terlihat jelas, yaitu semua level tersebut berbentuk horizontal, Trend follower akan menggunakan SNR level ini sebagai batasan harga untuk menunggu terjadinya koreksi setelah sebelumnya terjadi impulse wave. Akan tetapi sering kali terjadi, saat terjadinya strong bullish/uptrend atau pun strong bearish/down trend, harga tidak sampai pada level SNR statis ini.

Nah, disinilah peranan dari pada Dynamic support resistance, karena pada saat terjadinya strong bullish atau pun strong bearish, Dynamic support resistance ini akan terbentuk secara visual mengikuti harga berjalan. Contoh Dynamic support resistance yaitu Moving Average dan Bollinger Band.

indikator Moving average

Moving average adalah salah satu indicator teknikal yang paling serbaguna dan paling banyak digunakan. Karena cara indikator ini dibuat, dan karena fakta bahwa dia dapat dengan mudah diukur dan diuji, Indikator ini adalah dasar bagi banyak sistem trend-following mekanikal yang digunakan saat ini.

Analisa chart sebagian besar subjektif dan sulit untuk di uji. Akibatnya, analisa chart tidak dimungkinkan untuk dikomputerisasi. Namun, moving averages dapat dengan mudah di program ke komputer, yang kemudian menghasilkan sinyal beli dan jual. Jika dua trader mungkin saja tidak setuju mengenai apakah pola harga tertentu adalah triangle ataukah the wedge, atau apakah pola volume lebih condong bullish atau bearish, sinyal trend moving average biasanya bersifat precise (pasti dan tepat) dan tidak bisa di perdebatkan.

Mari kita mulai dengan mendefinisikan apa itu moving average. Average adalah rata rata sebuah 'kumpulan data'. Misalnya, jika ingin mengetahui rata rata harga penutupan 10 hari, harga untuk 10 hari terakhir akan ditambahkan dan totalnya dibagi dengan 10. Istilah 'moving' digunakan karena hanya harga 10 hari terakhir yang digunakan dalam perhitungan. 

Moving average priode 10 pada TF daily

Moving average pada dasarnya merupakan alat bantu trend-following. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi atau memberi sinyal bahwa sebuah trend baru telah dimulai atau trend lama telah berakhir atau berbalik arah. Tujuannya adalah untuk melacak pergerakan dan perkembangan trend. Ini bisa dilihat sebagai trendline yang melengkung. Namun tidak memprediksi aksi pasar dalam arti yang sama dengan analisa chart standard yang digunakan. Moving average adalah 'pengikut', bukan 'pemimpin'. Ia tidak pernah mengantisipasi, ia hanya bereaksi. Moving average mengikuti pasar dan mengatakan kepada kita bahwa sebuah trend telah dimulai, namun hanya setelah trend itu terbentuk.

Penggunaan Moving Average tidak bisa digunakan sendiri, harus di kombinasikan dengan pengetahuan dan pemahaman dari Teknikal Analisis Price Action. Ia hanyalah sebagai 'pengikut'/lagging indicator yang selalu bergerak mengikuti harga yang bertindak sebagai leading indicator.

Ketika harga berada di atas rata-rata dari sebuah periode Moving average seperti yang ditunjukkan oleh gambar diatas tadi, maka tendensi atau arah pergerakan harganya adalah bullish, sebaliknya ketika berada di bawah rata-rata nya adalah bearish.

Sekali lagi pemahaman atas konsep dari market struktur pada Bab 2 menjadi sangat penting. Tips : saat kondisi uptrend, dimana terjadi titik temu antara SNR statis RBS dan Dynamic support resistance (confluence), maka high probability terjadinya bouce back/mantul sangat besar.

Secara garis besar Moving Average terbagi menjadi 3 jenis, yaitu : 

  • SMA (Simple Moving Average)
  • WMA (Weighted Moving Average) 
  • EMA (Eksponensial Moving Average)

Perbedaan utama antara moving average SMA dan EMA adalah sensivitas masing masing menunjukkan perubahan data yang digunakan dalam perhitungannya. Lebih khusus lagi EMA memberikan bobot lebih tinggi untuk harga harga baru ini, sementara SMA memberikan bobot yang sama untuk semua nilai. Banyak trader percaya bahwa data baru akan mencerminkan trend saat ini bergerak. Bukankah saat kita melakukan trade di harga saat ini/running price, kita sedang memprediksi kemana arah trend selanjut nya terjadi? Iya kan.

Pada prakteknya, sering kali penggunaan Moving Average digunakan bersama dengan teknikal analisis yang lain, seperti stochastic indicator atau price action. Dan periode MA yang digunakan tidak jarang lebih dari satu, paling sering dikombinasikan dengan dua atau tiga moving average.

Mari kita ambil contoh menggunakan periode EMA 21,34 dan periode 90. Semakin pendek moving average, semakin dekat ia akan mengikuti trend harga. Bilangan 21, 34 adalah angka bilangan Fibonacci.

Penggunaan 3 EMA pada Chart

Pada diatas, kita melihat terjadinya bullish, dan harga berada di atas 3 buah Moving Average EMA, dan confluence dengan Resistance become support, juga berada di area demand, maka peluang trade seperti ini, punya high probability untuk terjadinya bouce back/mantul sangat besar dan akan kembali melanjutkan trend sebelumnya, dibandingkan berbalik arah. 

Terjadinya crossing dari beberapa moving average, sering kali menjadi indikasi/warning terjadinya pembalikan. Tidak berarti ketika terjadi crossing MA dari uptrend ke down trend, entry di lakukan, akan tetapi menunggu terjadinya koreksi dari pola impulse corrective yang terbentuk.

Crossing Moving Average

Pada diatas, diatas kita melihat crossing EMA menjadi indikasi/signal awal pembalikan dari down trend ke uptrend, lalu terbentuk Pola Dasar Bullish abc Impulse dan Corrective wave di atas dari tiga Eksponensial moving average, dan juga confluence pada resistance become support (RBS). High probability, harga akan cenderung naik dibandingkan akan turun. Berikutnya tentang trendline.

Belum ada Komentar untuk "Dynamic Support resistance"

Posting Komentar

Komentar yang relevan dengan isi artikel akan di approve :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel